Ketik kata atau ayat:

Alkitab Bahan
Basic Bible Lessons

Cara Mengelola Keuangan Yang Benar Menurut Alkitab (2)

Shallom ....


Apakah anda sudah membaca bagian pertama dari pembahasan ini? Jika belum silahkan klik disini ....

Yang berikut ini bagian kedua ....

Perihal dalam Memberi
Tuhan Mengharapkan Kita untuk Memberi...
  1. Melalui Karya AnugrahNya: Melalui hubungan dengan Dia, memberi merupakan hasil karya anugrah Tuhan dalam hidup sehingga itu menghasilkan komitmen hidup seseorang pada Tuhan dengan pemberian yang mengalir keluar dari komitmen itu (2 Kor. 8:1-2, 6-7; 9:9-11).
  2. Dalam Iman: Dia telah berjanji untuk mencukupi seluruh kebutuhan kita; pemberian kita tidak akan menbuat kita kekurangan (2 Kor. 9:7; Fil. 4:19).
  3. Dengan Memiliki Tujuan: Kita memberi dengan perencanaan yang seksama dan dibawa dalam doa. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya” (2 Kor. 9:7).
  4. Secara Teratur: “Dihari pertama setiap minggu” menolong untuk mendorong ketekunan dan disiplin dalam memberi. Ini menciptakan konsistensi dan keteraturan yang menyatakan niat kedalam tindakan (1 Kor. 16:2).
  5. Secara Pribadi: “Biarlah setiap kamu” memenuhi kebutuhan setiap orang percaya dengan membuat pemberian sebagai tanggung jawab pribadi yang diberikan Tuhan (1 Kor. 16:2).
  6. Secara Sistematis: “sisihkan dan simpan” menimbulkan kebutuhan untuk memiliki metode atau system dimana uang untuk pekerjaan Tuhan secara khusus disisihkan, disimpan untuk diberikan, sehingga tidak digunakan untuk hal lain (1 Kor. 16:2).
  7. Secara Proporsional: Dalam Perjanjian Baru, menyisihkan sebagian untuk diberikan (sebagai persepuluhan) telah digantikan oleh prinsip anugrah pemberian, secara sukarela, bertujuan, dan proporsional. Standar baru sekarang ini adalah “sesuai berkatNya (1 Kor. 16:2), “memberi menurut kemampuan mereka” (2 Kor. 8:3), “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.…” (cf. 2 Kor. 8:12-15, Mark 12:41-44), dan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan” (2 Kor. 9:7).                                                                                                                                                                          Kepada Siapa Kita Harus Memberi?              
  1. Gereja Lokal“Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal. 6:6; cf. juga 1 Tim. 5:17-18). Jika gereja lokal akan membentuk pusat pelayanan keluar, maka sudah sewajarnya jika itu menjadi prioritas pertama anda dalam memberi.
  2. Organisasi lain dan Individu. Ini termasuk misi, kelompok gereja dan individu yang terlibat dalam pelayanan ini (3 Yoh 5-8).
  3. Sesama Orang Percaya yang Membutuhkan. Mereka yang tidak mampu menyokong diri sendiri atau yang menghadapi masalah serius harus ditolong sebisa mungkin. Mereka yang menolak bekerja jangan didukung (1 Yoh 3:17; Yak 2:15-16; Gal. 6:10; Ibr 10:33-34; 13:1-3 with 2 Tes. 3:6-10).
  4. Orang Belum Percaya yang Membutuhkan. Prioritas pertama kita adalah mereka yang seiman, tapi kita juga menjangkau orang lain yang membutuhkan sebisa mungkin (Gal. 6:10).
Pemberian Yang Proposional

Apa artinya memberi secara proporsional? Bagaimana itu menentukan berapa banyak yang harus diberi? Sangat mudah menentukan sepuluh persen dari seluruh jumlah pendapatan kita sebulan. Tetapi berapa banyak pemberian proposional itu? Apakah “sekehendak hatinya,” atau “sebanyak dia diberi,” atau “semakmurnya dia,” atau “jika ada kemauan maka baiklah memberi menurut apa yang didapat …” Sebanyak apa itu?
  1. Itu bukan suatu jumlah tertentu, atau persentase tertentu, tapi suatu proporsi didasarkan atas apa yang dimiliki seseorang, kebutuhan seseorang, dan kebutuhan orang lain, termasuk pekerjaan Kristus atau pelayanan gereja lokal.
  2. Mereka yang memiliki sedikit juga memberi semampu mereka (2 Kor. 8:2-3).
  3. Mereka yang tidak memiliki apapun, jika ada kerelaan, tidak diharapkan memberi apapun (2 Kor. 8:12).
  4. Mereka yang kurang (kebutuhan pokok) akan menerima dari mereka yang lebih sehingga ada keseimbangan (2 Kor. 8:13-15). Ini bukan sosialisme atau komunisme yang memaksa dan mengusahakan adanya kesamaan diluar keragaman lingkungan dalam bekerja, bakat, dan insentif pribadi (cf. 2 Tim. 6:17f).
  5. Tuhan tidak meminta mereka yang memiliki banyak untuk menjadi miskin atau membebadi mereka yang kaya (2 Kor. 8:13). Keseimbangan yang dinyatakan dalam pemberian yang proporsional ada 2 sisi: (a) Meliputi bantuan untuk menolong orang yang membutuhkan sampai mereka mampu secara keuangan melalui bekerja (Ef 4:28; 2 Tes 3:10-15). Kita tidak memberi sehingga orang lain bisa hidup enak atau memiliki standar hidup yang sama dengan semua orang. (b) Ini menciptakan keseimbangan dalam pengertian bahwa mereka yang kurang memberi sesuai kemampuan demikian juga yang mampu sesuai dengan kemampuannya.
  6. Mereka yang berkelimpahan harus kaya dalam pekerjaan baik, mereka harus menggunakan kelimpahannya dengan bebas untuk Kristus (2 Kor. 8:14; 2 Tim. 5:17-18).
  7. Kemakmuran yang meningkat janganlah menghasilkan standar hidup yang terus meninggi, atau pengeluaran yang percuma,tapi peningkatan dalam memberi, tidak hanya jumlah tapi dalam persentase. Jika orang percaya masa kini berkomitmen pada pemberian yang proporsional, banyak orang yang akan memberi lebih dari sepuluh persen. Statistik menunjukan, sebagian besar orang percaya memberi kurang dari 3-5 persen.
Definisi Pemberian yang Proporsional
Pemberian yang proporsional adalah pemberian yang sesuai dengan berkat Tuhan, sebagai pelayan yang ingin menginvestasikan hidupnya dalam kekayaan surgawi. Pemberian yang proprosional tidak berarti memberi lebih, tapi memberi sebagian besar dari pendapatan seseorang—bagian terbesar diberikan untuk pekerjaan Tuhan.
Dalam Pemberian yang Proporsional:
  1. MOTIF KITA dalam memberi adalah berkat Tuhan, untuk meningkatkan buah dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan (2 Kor. 9:8-15).
  2. UKURAN KITA dalam memberi adalah berkat material dari Tuhan (1 Kor. 16:2).
Ilustrasi mengenai Pemberian yang Proporsional:
Orang percaya A memiliki pendapatan Rp. 20 juta sebulan dan dia memberi sepuluh persen, yaitu Rp. 2 juta. Orang percaya B memiliki pendapatan Rp. 50 juta sebulan dan memberikan sepuluh persen, yaitu Rp. 5 juta. Orang percaya B telah memberi Rp. 3 juta lebih banyak dalam setahun tapi ini tidak proporsional karena Orang percaya A hanya memiliki Rp. 18 juta untuk dihidupi dan Orang percaya B masih memiliki Rp. 45 juta, dua kali lebih banyak. Orang percaya B bisa memberi 20 persen (Rp. 10 juta) dan masih memiliki Rp. 40 juta tetap dua kali lebih banyak dari Orang percaya AOrang percaya B tidak hanya harus memberi lebih banyak tapi secara proporsional seharusnya lebih banyak.
Janji Tuhan Untuk Pemberi Yang Murah Hati
Lukas 16:10-11: Umumnya, Tuhan tidak mempercayakan kekayaan yang lebih banyak pada kita sampai kita terbukti setia dengan apa yang kita punya sekarang.
2 Korintus 9:8-11: Pemberian kita tidak akan membuat kita kekurangan; Tuhan tidak saja menyediakan apa yang telah kita berikan, tapi dia akan meningkatkan kemampuan kita dalam memberi saat kita memberi dengan limpah. Tujuannya disini bukan untuk meningkatkan kekayaan pribadi, tapi pemberian.
Perihal Kekayaan Duniawi
Prinsip Dasar: Apa yang kita kumpulkan menentukan cara pandang kita akan nilai hidup (Mat. 6:22-23).
Pandangan Alkitab: Harta kita ada di sorga (Mat. 6:19-20).
Alasan Alkitab:
  1. Harta kita permanent di sorga (Mat. 6:20; 1 Pet. 1:4).
  2. Harta dibumi itu sementara dan bisa hilang. Kita tidak bisa membawa harta dunia kita kesorga (Luk. 12:20-21; 1 Tim. 6:7).
  3. Harta dunia kita tidak memuaskan karena tidak bisa membeli kebahagiaan sejati (Isa. 55:1-3; Luk. 12:15, 23; Pengkhotbah. 5:10).
  4. Harta dunia kita tidak bisa memperpanjang hidup atau memberikan keamanan (Luk. 12:16-21).
  5. Harta kita menentukan prioritas kita. Tanpa harta yang benar, kita akan mengejar hal yang sala dan menyia-nyiakan hidup kita (Matt. 6:21; Luk. 12:34; 1 Tim. 6:9-10; Luke 19:23-26).
  6. Harta terbesar kita adalah kesalehan, yaitu hidup yang penuh ucapan syukur (1 Tim. 6:6; Ibr. 13:5; Fil. 4:11-12; Ams. 15:17; 16:8; 17:1).
Penjelasan Alkitab: Harta sorgawi terdiri dari mahkota, upah, dan tanggung jawab yang diberikan pada orang percaya dikursi penghakiman Kristus bagi pelayan yang setia (Luk. 19:16-19; 1 Kor. 3:12-15; 9:25; 1 Tes. 2:19; 2 Tim. 4:8). Harta terutama adalah Tuhan dimuliakan (1 Pet. 4:11; Why. 4:9-11).
Siapakah Tuan Kita?
Seorang pelayan tidak bisa melayani dua tuan. Kita tidak bisa melayani Tuhan sekaligus melayani Mamon (materialisme) (Luk. 16:1-13; Mat. 6:24).
Alasan Alkitab: Tidak mungkin melayani dua tuan disaat yang sama. “ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luk. 16:13).
Pandangan Alkitab:
  1. Lukas 16:1-2: Hidup adalah pelayanan dan kita adalah pelayan Tuhan yang bertanggung jawab atas pelayanan yang dipercayakan pada kita. Berhenti berpikir seperti pemilik. Mulai berpikir seperti manajer/penatalayanan/pengelola.
  2. Lukas 16:1, 11-12: Kita memboroskan milik Tuhan dalam hidup kita atau menginvestasikannya dengan bijak bagi kemuliaanNya?
  3. Lukas 16:10: Uang, dalam nilai sejatinya, merupakan hal “kecil”, tapi, kesetiaan dalam hal kecil (uang) merupakan tanda kesetiaan kita dalam hal besar (nilai kekal).
  4. Lukas 16:11: Penggunaan uang adalah ujian dari kesetiaan kita.
  5. Lukas 16:11: Uang tidak menunjukan kekayaan yang sebenarnya.
  6. Lukas 16:12: Uang harus digunakan secara bijak dan setia sebagai bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan.
  7. Lukas 16:12: Uang dan pendapatan, jika kita tidak hati-hati, bisa menjadi tuhan/berhala kita.
Tantangan Alkitab:
  1. Apakah saya hamba uang dan harta duniawi? Apakah mungkin saya tidak mengetahuinya? Kita harus memilih antara melayani uang atau Tuhan!
  2. Apakah saya mengorbankan kualitas seperti Kristus dan tanggung jawab dalam mengejar harta dunia? (a) hati nurani yang murni; (b) kejujuran, moral; (c) Persahabatan; (d) Kehidupan keluarga (istri, suami, anak, saudara); (e) Reputasi; (f) Kemuliaan Tuhan, dll.
  3. Apakah saya lebih peduli pada harta dunia dan masalah keuangan daripada hubungan saya dengan Tuhan dan kebenaran-Nya? (a) Apakah prioritas saya; (b) Bagaimana dan di mana saya menghabiskan waktu; (c) Apa yang paling saya pikirkan— apakah itu uang atau hubungan dengan Tuhan, atau bagaimana mengembangkan kehidupan iman saya?
  4. Apakah saya mencari uang dan harta dunia (prestise, kuasa, kedudukan, kesenangan, kepemilikan, dll.) Semua itu bisa Tuhan berikan? (a) Kebahagiaan, sukacita sejati; (b) Kepuasan; (c) Damai dalam Pikiran; (d) Keamanan; (e) Tujuan dan arti hidup.
Jika jawaban anda ya, maka uang telah menjadi tuhan atas dirimu! Renungkanlah...
Kesimpulan
Setelah mempelajari prinsip-prinsip ini, tanyakan hal ini: Apakah saya mau memberi diri pada konsep ini sebagai cara hidup untuk menjadi anak Tuhan atau pelayan Tuhan yang baik? Biarlah Tuhan menjauhkan kita dari berhala patung lembu emas materialisme.
Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. (1 Petrus. 1:17-19).
(by :  J. Hampton Keathley, Th.M.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intisari Injil Matius

Peringatan Serius Bagi Semua Orang Percaya Dan Gereja Tuhan!

7 Surat Untuk Ke 7 Jemaat (Kitab Wahyu)

Intisari Kitab Daniel

Kebenaran Alkitab Terbukti: Gerhana Super Blue Blood Moon dan Kitab Yosua