Ketik kata atau ayat:

Alkitab Bahan
Basic Bible Lessons

Apa Yang Mendasari Pengakuan Trump Atas Yerusalem?

Apa Yang Mendasari Pengakuan Trump Atas Yerusalem?
Shallom .....

Keputusan yang dibuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah memicu kutukan, kecaman, dan penentangan dari berbagai pihak.
Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan 'sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel'.
Mengapa Presiden Trump mengambil keputusan ini? Apa kepentingan Trump di balik pengakuan tersebut?
Menurut penjelasan Barbara Plett Usher, wartawan BBC di Kementerian Luar Negeri AS, bahwa tidak ada strategi khusus di balik keputusan ini.
"Fakta bahwa Palestina, dan seperti dilaporkan, para pemimpin dunia Arab, dikejutkan oleh keputusan ini merupakan satu tanda bahwa ini bukan merupakan bagian dari strategi Timur Tengah yang lebih luas," menurut Usher.
Lebih lanjut dia menyatakan, ada spekulasi bahwa Trump berupaya untuk mengubah beberapa hal sebagai taktik persiapan di lapangan untuk perundingan damai, namun ada lebih banyak bukti yang menunjukkan bahwa Trump hanya berfokus pada pemenuhan janji kampanye terhadap Yahudi Amerika pro-Israel dan kelompok Kristen Evangelis yang merupakan basis massa politisnya.
Menurut berbagai laporan, Trump merasa frustrasi dengan penentangan yang terus-menerus dari tim keamanan nasionalnya, yang berkumpul Senin (04/12) untuk membahas opsi pengabaian kedutaan besar.
Isu ini muncul setiap enam bulan saat AS diwajibkan oleh aturan untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv atau mengabaikan tuntutan Kongres atas alasan keamanan.
Pejabat AS mengatakan bahwa mereka setuju untuk menandatangani pengabaian itu dengan janji mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan membuka proses memindahkan kedutaan besar.
"Sementara beberapa presiden sebelumnya menjadikan ini sebagai janji utama kampanye mereka, mereka gagal memenuhinya. Hari ini, saya memenuhi janji itu," kata Trump dengan penuh kemenangan dalam pidatonya.
Selain itu, wajah Wakil Presiden Mike Pence yang berseri-seri di belakang Trump saat pengumuman sudah menyampaikan semuanya, menurut Usher lagi.
Wakil Presiden Pence disebut sebagai 'suara berpengaruh' dalam meyakinkan Trump untuk memenuhi janji kampanyenya itu, dan ini menggambarkan kekuatan politik dari Evangelis Kristen garis keras yang mendukung penuh Israel.
Dan pengaruh Pence ini tak lepas dari pengamatan legislator Palestina dan penganut Kristen, Hanan Ashrawi.
"Tuhan saya tidak memberi tahu apa yang disampaikan oleh Tuhannya," kata Ashrawi dalam wawancara dengan BBC.
"Kami adalah Kristen yang asli, kami pemilik tanah itu, kami adalah orang-orang yang sudah di sana selama berabad-abad. Berani-beraninya mereka datang ke sini dan memberikan ayat Injil dan posisi absolutis!"
Mungkinkah Trump mengubah keputusan?
Bisa saja, tapi tampaknya sulit.
Keputusan Trump ini memang berbeda dari presiden-presiden AS sebelumnya, mendapat kecaman dunia, dan mengejutkan banyak orang dan sepertinya Trump memang ingin berbeda dari presiden AS lain.
Namun juga keputusan ini diambil untuk memuaskan massa pendukungnya, sehingga sepertinya sulit untuk membayangkan Trump mengubah keputusan.
Apakah pengakuan ini akan membuat marah umat Islam seluruh dunia? Bagaimana peta politik konflik Timur Tengah pascaputusan Trump? Apa implikasi kebijakan sepihak AS di Timur Tengah?
Pengumuman Trump ini merupakan ujian baru bagi Timur Tengah. Setidaknya, ada reaksi kuat dari sekutu AS di dunia Arab, menurut Usher.
Status Yerusalem sebagai tempat yang suci berarti bahwa pemimpin Arab tidak akan terlalu tergerak untuk mengambil pendekatan pragmatis yang akan mereka pakai dalam isu penting lain terkait konflik Israel-Palestina.
Yordania dan Arab Saudi, sebagai penjaga situs suci Islam, telah mengeluarkan peringatan bahwa langkah ini bisa membuat marah dunia Islam.
Namun revolusi Arab kini memindahkan prioritasnya dari isu Palestina ke isu soal Iran, terutama di kalangan negara-negara Teluk.
Karena mereka telah membentuk kerja sama intelijen diam-diam dengan Israel, dan membutuhkan Trump.
Jika pemimpin Arab mengeluarkan banyak pertanyaan soal Yerusalem tapi tak mengambil aksi apa-apa, ini menjadi bukti bahwa ada Timur Tengah yang baru.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan pada apakah ibu kota Israel adalah Yerusalem Barat, tapi apakah Yerusalem Timur yang diduduki Israel akan menjadi ibu kota negara Palestina.
Trump membuka kemungkinan itu dengan mengatakan bahwa pemerintahnya tidak mengambil posisi final mengenai status kota suci, "termasuk soal batasan spesifik akan kedaulatan Israel di Yerusalem, atau resolusi dari perbatasan yang diperdebatkan".
Ini mengindikasikan bahwa klaim Palestina terhadap Yerusalem Timur akan tetap ada dalam agenda negosiasi.
Meski begitu, Trump tidak memperjelas pernyataan ini, atau bahwa dia menyatakan dengan jelas bahwa tujuannya adalah solusi dua negara.
Namun dia menyatakan bahwa AS akan mendukung solusi tersebut jika disepakati oleh dua belah pihak: dan ini bukanlah dukungan yang diharapkan oleh Palestina.
Pada akhirnya, Trump tidak menawarkan apa-apa bagi Palestina, dan pidatonya terasa seperti dukungan hanya kepada Israel.

Apa ada sisi positif dari pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel?

Trump telah mengklaim bahwa pengakuan atas Yerusalem ini akan memajukan proses perdamaian.
Tapi, menurut Usher, tampaknya Trump mensabotase upaya perdamaiannya sendiri. Keputusan ini pastinya akan menguatkan hak Israel dan mereka yang menentang negara Palestina dan konsesi kepemilikan akan Yerusalem.
Dan keputusan ini, akan menyulitkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk melakukan perundingan.
Pejabat pemerintahan Trump mengindikasikan bahwa mereka akan melanjutkan rencana perundingan damai dan menunggu sampai keadaan tenang. Karena belum siap, maka ada waktu bagi Palestina untuk menolak proses tersebut dan mempertimbangkan ulang.
Namun Trump, menurut Usher, telah menjerumuskan AS ke konflik soal Yerusalem. Dan ini adalah posisi yang tidak nyaman dan tidak ideal bagi mediator.
Melalui perbincangan dengan banyak orang di Ramallah, BBC News memperoleh tanggapan bahwa keputusan Washington telah merusak peluang Palestina meraih kemerdekaan sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
"Kami mengecam keputusan Amerika yang mengakhiri mimpi kami, warga Palestina. Keputusan itu menyudahi solusi dua negara," ujar Abed Jayussi, warga Ramallah lainnya.

Sebenarnya Yerusalem itu wilayah siapa? Bukankah Yerusalem adalah bagian dari Israel? Bukankah ini adalah hak masing-masing negara berdaulat untuk menentukan ibu kota negaranya?

Apakah wilayah Yerusalem diakui PBB sebagai bagian wilayah administratif Israel atau status sebagai wilayah jajahan?
Israel telah menduduki Yerusalem Timur sejak perang Timur Tengah 1967.
Mereka mencaplok wilayah itu pada tahun 1980 dan menganggapnya sebagai wilayah mereka. Menurut hukum internasional, Yerusalem timur termasuk wilayah pendudukan.
Status Yerusalem merupakan jantung konflik panjang Israel-Palestina, karena Israel mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara mereka di masa depan, sementara Israel menetapkan bahwa Yerusalem adalah ibu kota abadi yang tak dapat ditawar lagi.
Pemerintah AS sejak tahun 1948 bersikap bahwa status Yerusalem diputuskan oleh negosiasi dan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan yang mungkin dianggap sebagai upaya mengarahkan hasil dari negosiasi tersebut.
Berdasarkan kesepakatan damai Israel-Palestina tahun 1993, status akhir atas Yerusalem akan dibahas dalam tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari.
Namun sejak tahun 1967, Israel sudah membangun belasan kawasan permukiman -untuk menampung 200.000 warga Yahudi- di Yerusalem Timur.
Langkah itu dianggap melanggar hukum internasional walau posisi ini selalu diabaikan oleh Israel.
Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, maka Amerika Serikat akan memperkuat posisi Israel bahwa permukiman di kawasan timur kota itu merupakan komunitas Israel yang sah.
Pusat -bahkan inti- Yerusalem adalan bagian Kota Tua, suatu labirin gang-gang sempit dan arsitektur bersejarah yang menandai empat penjuru kota: kawasan Kristen, Muslim, Yahudi dan Armenia.

Siapa saja negara yang setuju dengan keputusan AS ini dan siapa yang tidak setuju?

Amerika menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan selain sambutan gembira dari PM Israel Benjamin Netanyahu yang mengatakan bahwa pengumuman ini adalah sebuah 'monumen bersejarah', tampaknya tak ada lagi yang setuju.
Yang muncul adalah gelombang kecaman dan kritik dari berbagai penjuru dunia.
Kita juga sudah tahu bahwa Presiden Joko Widodo menyebut "pengakuan sepihak itu melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB" dan "bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia."
Ia juga menyerukan PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk segera membahas dan menentukan sikap.
Para pemimpin dari dunia Muslim dan masyarakat internasional lain melontarkan kemarahan mereka, dan sebagian memperingatkan bahwa langkah itu menimbulkan potensi kekerasan dan pertumpahan darah.
Paus Fransiskus mengatakan, "Saya tidak dapat membungkam keprihatinan saya yang mendalam atas situasi yang muncul dalam beberapa hari ini. Pada saat yang sama, saya sangat mengharapkan semua orang untuk menghormati status quo kota, sesuai dengan resolusi PBB yang relevan."
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, mengatakan pernyataan Presiden Trump "akan membahayakan prospek perdamaian bagi Israel dan Palestina".
Uni Eropa meminta "dimulainya kembali proses perdamaian yang berarti menuju solusi dua negara" dan mengatakan "harus ditemukan suatu cara, melalui negosiasi, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibu kota masa depan kedua negara, sehingga aspirasi dari kedua belah pihak bisa terpenuhi".
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel "sangat disesalkan".
Cina dan Rusia juga menyatakan keprihatinan mereka bahwa langkah itu dapat menyebabkan peningkatan ketegangan di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pemerintah Inggris tidak setuju dengan keputusan AS itu, yang disebutnya 'tidak membantu dalam hal prospek perdamaian di kawasan itu.
Juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan di Twitter bahwa Berlin "tidak mendukung sikap (Trump) ini karena status Yerusalem hanya dapat dirundingkan dalam kerangka solusi dua negara".

Apakah mayoritas umat Kristen setuju terhadap pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem?

Ada sekitar dua miliar lebih penganut Kristen di dunia, tentu sulit untuk menentukan atau menjawab tanggapan dari mayoritas umat Kristen, namun ada beberapa otoritas yang sudah mengeluarkan pernyataan atau diuntungkan dari keputusan Presiden Trump ini.
Seperti sudah disebutkan, keputusan Trump ini menggembirakan bagi kaum Evangelis Kristen di Amerika Serikat yang merupakan basis pendukung Trump.
Paus Fransiskus sudah menyatakan bahwa dia prihatin atas pengakuan dari Trump.
Di Indonesia, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo mengatakan pemindahan ibu kota merupakan hal politik, tidak menyangkut dengan keimanan.
"Bagi umat apa pun, Yerusalem tetap akan jadi kota suci karena sebagai lambang. Iman Katolik tidak akan berubah siapa pun yang menguasai Yerusalem," kata Suharyo.
Sementara pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Persekutan Gereja-gereja Indonesia (PGI) yang ditandatangani oleh ketuanya, Pdt. Dr. Henriette Tabita Lebang, menyampaikan bahwa pengakuan Trump itu "merupakan bentuk pengabaian terhadap perjalanan panjang gereja-gereja dan masyarakat dunia untuk penyelesaian konflik Palestina dengan solusi dua negara, Israel dan Palestina, yang berdiri secara damai."
"Penyelesaian menyeluruh sedemikian sesungguhnya mengharuskan status Yerusalem diselesaikan dalam dialog konstruktif mempertimbangkan aspirasi dan kepentingan kedua belah pihak," lanjut pernyataan tersebut.
Apa pendapat anda?    (sumber: bbc.com)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Serius Bagi Semua Orang Percaya Dan Gereja Tuhan!

Kebenaran Alkitab Terbukti: Gerhana Super Blue Blood Moon dan Kitab Yosua

Intisari Injil Matius

Penyakit (rohani) Akhir Jaman

Intisari Kitab Daniel